Thursday, May 31, 2012

Menyelam di Sungai Yang Keruh

"Mampukah kita menyelam di sungai yang keruh, mencari hikmah dibalik hiruk pikuk kehidupan yang semakin galau ini"

sumber gambar : http://gbis-sungaikehidupan.blogspot.com
Jika saja hidup ini seperti aliran air dan dunia ini ibarat sungai.

Hidup adalah  seperti aliran air di sungai , mengalir secara perlahan namun pasti. Ada saatnya pasang, ada kalanya surut, dan ada waktunya tiba-tiba banjir. Semua terjadi secara berganti dan tak berhenti mengikuti waktu yang telah menentukannya. 

Dahulu, mungkin kita masih bisa menjumpai sungai yang airnya jernih, tapi kini sudah jarang bisa dilihat oleh mata. Semua telah terkotori dan tercemar oleh berbagai macam aktivitas kehidupan
yang menyisakan kekeruhan.
Pun tak ada lagi yang perduli betapa pentingnya penghijauan untuk menjaga kejernihan air yang menghiasi sungai yang harusnya tampak indah.

Begitulah hidup yang terus mengalir mengikuti waktu. Mampukah kita berenang mengikuti aliran air di sungai kehidupan ini. Ikutilah alirannya selagi airnya bening. Jangan coba-coba melawan bila tak ingin tenggelam ke dasarnya. Tapi jika sungai mulai keruh, berusahalah tuk mencari yang masih jernih karena dalam hidup kita pun bisa memilih.

Dunia telah semakin tua, manusia telah semakin lupa, hingga perbuatan yang salah di masa kini semakin dianggap sebagai hal yang biasa. Banyak dari kita yang semakin larut dalam dosa dan tenggelam dalam kemaksiatan. Kemaksiatan dunia yang semakin membuat kehidupan pada saat ini ibarat sungai yang keruh.
Mungkin kita memang bisa memilih, memilih untuk menghindari. Tapi terkadang kenyataan justru membawa kita untuk terbawa dalam arus kehidupan yang semakin deras. Melarutkan kita untuk terus mengejar kesenangan dunia. 

Untuk itulah, sebagai insan yang memiliki akal dan pikiran. Mampukah kita untuk bertahan, disaat kita dihadapkan pada realita yang beraneka ragam corak dan warnanya. Warna warni indah dunia yang samakin membuat keruh hati kita. Tentunya kita tak ingin tujuan hidup kita yang panjang ternoda oleh kepentingan sesaat.

Baiklah Sahabat, 
Mari sejenak kita merenung, intropeksi diri dan mengingat kembali tujuan hidup kita. Menyadari bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang berbuat kebaikan. Waktu takkan pernah bisa terulang, jadi jangan pernah menyia-nyiakan waktu kita yang singkat di dunia ini. Hidup memang semakin susah, hati banyak yang semakin resah, Cinta juga kadang membuat gelisah, belum lagi akhlak manusia yang kini semakin parah. Semakin membuat lelah dan tak tentu arah. Itulah dunia yang memang semakin tua ini. 

Kehidupan ibarat sungai yang keruh saat ini membuat kita tak mudah untuk sampai pada muara yang kita impikan. Semakin banyak rintangan dan godaan yang harus kita hadapi. kemaksiatan semakin mengotori dunia ini.
Lihatlah, betapa semakin banyak musibah dan bencana yang diturunkan Allah sebagai peringatan. Tentunya Allah murka dengan perbuatan manusia. Dosa-dosa yang kemaksiatan yang semakin menjadi-menjadi, semakin memperkeruh dunia.

Bagaimana cara kita menyikapinya, yaitu dengan senantiasa menjaga hati ini. Menjaga hati untuk tetap berada di jalan Allah. Biarkanlah dunia akan bagaimana dan seperti apa, hadapilah. Karena menjaga hati itu lebih berat daripada menjaga dunia itu sendiri. Menjaga hati dengan slalu mengingatNya, Menjaga hati untuk sabar dan ikhlas. Menyelami setiap kejadian dan musibah dan mengambil hikmah. Menyadari tanda-tanda peringatan dari Tuhan dan segera kembali ke jalanNya. 

Banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik hikmah dan kita teladani. Dan senantiasa berpegang teguhlah pada petunjuk jalan yang benar InsyaAllah akan mengantarkan kita tuk terus berenang dan bertahan mengarungi sungai kehidupan yang semakin keruh. Jangan sampai kita larut dan tenggelam. Semoga kita semua bisa sampai pada muara yang indah. Amieen!

Hidup di masa sekarang adalah bagaimana cara kita untuk menyelam di sungai yang keruh. Mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, menyikapi, menyiasati, menjaga diri dan menjaga hati dengan sabar dan ikhlas.

Salam,
Ridho Maulana

No comments:

Post a Comment